How not to get lost: Self Studying Correctly

Whether programming, learning foreign language,  or honing guitar strumming skill, there are many occasion where We got to learn something by ourselves, independently. In those occasion, I often face more problem in mastering skill compared to when studying in class under supervision of lecturer or teacher. I often think that It to to bothersome to self study something. These are what often happened when self studying:

  • Lack of Motivation. When we studying in classroom, we are motivated because we wanted to achieve high score (yeah, admit it or not, that’s 98% student motivation).
  • Lack of Stamina.  Okay let’s say I have pure intention to study because I enjoy it (or most likely my job require me to learn it). It’s not enough. When we are in classroom, we have schedule to follow. In self studying, you are on your own. Are you discipline enough to do that? Learning something require persistence.
  • Lack of Guidance. In school, we got our lecturer to teach what it’s important or not. When we are self studying, again, We are on our own. We can sit in front of our computer, thinking we learning something. But do you study correctly? Is it efficient? Are you studying important points? Or are you wasting your time learning unimportant things?
  • Lack of Feedback. How do you know whether you already grasp the concept? Is it just your own feeling or is real?

Baca lebih lanjut

Why local orange is way more expensive?

When shopping fruit in supermarket, we can see that price of local fruit is sometimes more expensive than those of imported from another countries. Pontianak orange can be more expensive than Mandarin orange. It is not only fruits. Sometimes local goods is sell at more expensive price than international goods, even though the quality is the same (perhaps international one is better). Why this happen? Do our farmer and manufacturer is to greedy and charge us too much? Well, no. The root of all evil in this problem is well, infrastructure!

Initially, the cost from farmer and manufacturer is decent, however, when transported to the market, the cost of logistic is add up to total price, and resulting an expensive price for goods. Not only only making price of goods goes up, infrastructure is also hampering Indonesia economic development. For example, when a multi national companies want to set a business in Indonesia and look for Indonesia current infrastructure, they will think twice. Manufacturing companies who wants to establish a plant will see if there is adequate electricity supply as well as logistic cost to transport the goods. They maybe think that Indonesia is not a good option and choose our neighbor, Singapore instead.

Singapore

Singapore is well-know for its infrastructure. Port of Singapore is major transshipment hub and one of the busiest seaport in the world. Around 130000 vessels enter the port annually. In term of airport, Singapore’s Changi is currently the World’s Best Airport for the fifth consecutive year and is one of the world’s busies airport by international passenger and cargo traffic.

How did Singapore come into this prosperous state? Most of scholar pin it on it autocratic government. Under right people, autocratic government can be very effective. Without the hassle of getting everyone approval, policy can be executed very efficiently. With repressive press control, social conflict is rare to be seen. This type of atmosphere is very suitable and ideal for foreign investor to park his money in Singapore.

Indonesia Challenge: How to Catch Up Singapore

And now,  rather than focusing to build their country, Indonesian people mind is occupied by rather unimportant things. Indonesia who is admired for their modern democratic islam, should show the world we are wise enough to move on from blasphemy case that started in Jakarta election. We should shift our attention to what matter the most, how to build our beloved country.

I personally believe that it all boil down to mindset of the people. Maybe we lost the spirit to attain the prosperity after reformation. This country is lack of strong leadership from their leader. The leaders can’t show the right direction to the people and the people is now busy to only satisfy their greed. We simply don’t have the spirit like many great countries posses when they climb the stair to prosperity. Spirit that bring Japan to 3rd largest economy after the lost the world war 2, spirit of south korea to catch up with their rival and neighbor, Japan. Spirit that bring German, which suffer the most from world war 2 into a country that dominate the world with their export.

So, what should we do now? if we do nothing. Yes, our local orange will always be more expensive than our neighbor.

 

Tuntunan Takdir

Perjalanan hidup siapa yang bisa tahu. Mungkin memang tidak ada orang yang mampu melihat ke depan. Kalau kata Steve Jobs, “You can’t connect the dots looking forward. You can only connect the dots looking backwards.” Mungkin sekali ketika masih mudah dahulu, Jobs tidak menyadari bahwa dia akan menjadi salah satu pemimpin bisnis terkemuka. Rasanya ini memang berlaku secara umum, bahwa manusia memang tidak bisa melihat masa depannya. Manusia memang lemah, kerdil dihadapan takdir.

Saya suka mendengar lirik lagu.Que sera, sera. Whatever will be, will be. The future not ours to see. Liriknya mengisahkan seorang anak perempuan, yang bertanya-tanya ke ibunya. Apakah dia akan jadi kaya dan cantik? Dan jawab ibunya adalah Que sera sera itu. Ketika ia beranjak dewasa, dia juga bertanya ke kekasihnya. Apakah hidup mereka akan bahagia? Tentu saja jawaban sang kekasih juga sama. Que sera, sera. Ketika akhirnya sang anak gadis sudah jadi ibu, anaknya pun bertanya ke si ibu, pertanyaan yang sama dengan sang ibu ketika kecil. Dan tentu saja jawabannya adalah Que sera, sera.

Apa ya maknanya? Kalau saya mungkin menganggapnya bahwa hidup itu harus dijalani dengan sikap ikhlas dan nrimo. Jalani saja dengan rasa syukur dan tetap semangat.Saya suka heran dengan takdir. Betapa aneh dan misterius.. Rasanya memang ada yang mengatur. Tuhan memang ada.

Waktu saya SMA dulu, saya suka sekali belajar biologi. Dan ketika akhirnya harus belajar teknik ketika kuliah, saya pilih teknik fisika. Alasannya? karena waktu dulu saya sering melihat biologi perlu alat-alat fisika untuk mempelajari biologi lebih dalam.Sebutlah optika mikroskop, atau spektrofotometer untuk menghitung jumlah bakteri.Saya tidak itu ilmu namanya apa.  Baru sekarang saya mengerti, namanya ilmu instrumentasi.

Seiring kuliah, akhirnya lupa juga dengan mimpi dia awal. Eh tidak tahunya, di tingkat empat sekarang saya mengerjakan tugas akhir, mengukur kematangan buah pisang berbasis sensor gas elektrokimia.Kok bisa ya.., aneh sekali .Padahal memilih pembimbing dan topiknya secara kebetulan. Akhirnya terhubung juga. The dots has been connected.

Banyak kebetulan kebetulan aneh, yang akhirnya memang baru terlihat setelah menengok ke belakang. Nah sekarang, apa yang harus dilakukan? kenapa harus melangkah? Tidak perlu khawatir, sudah ada yang mengatur. Que sera, sera.

 

 

Cukup

Segitu juga cukup kok. Rasanya bermimpi besar itu penting. Tapi merasa cukup juga sama pentingnya lagi. Mungkin istilah lebih tepatnya qana’ah.

Dalam equilibrium. Tidak sombong, tapi cukup tinggi untuk jadi percaya diri. Tidak rendah diri, tapi cukup rendah untuk jadi rendah hati.

Perasaan cukup itu rasanya hangat dan tentram. Nyaman. Tapi cukup menggelitik hati untuk membuat kita keluar mengeksplorasi daerah baru. Tapi tidak sampau meremas hati seperti mimpi yang tidak tercapai. Hangat dan nyaman.

Dunia ini punya aturan. Aturan Keseimbangan. Cenderung menyingkirkan yg berlebih lebihan. Cukup tinggi dan cukup rendah. Pohon yang tinggi terhempas angin lebih banyak. Pohon yang rendah tidak mendapat cukup cahaya

Berusaha keras, jangan malas. Tapi jangan menyiksa diri. Bermain ikuti aturan keseimbangan.

Saya  mungkin kalah, tapi tidak jatuh..

 

Goddess

“Yess! Berhasil! Luar Biasa!”

murayama-yuiri

Kaget campur senang. Bangun tidur sudah ada berita menyenangkan. Murayama Yuiri masuk senbatsu untuk performance di NHK Kouhaku (Acara pergantian tahun di Jepang). Waah, luar biasa. Senang sekali rasanya. Murayama Yuiri memang menarik, memang pantas masuk senbatsu di NHK.Memang pantas. Fans memanggilnya dewi teater.

Theater no Megami

Sudah 2 tahun Yuiri tidak mengikuti Sousenkyo (SSK, pemilihan dimana fans men-vote member untuk tampil di single). Padahal bagi sebagian member, SSK itu sakral sekali. Segala-galanya.Alhasil, keputusan Yuiri untuk tidak mengikuti SSK menjadi perdebatan di kalangan fans. Baca lebih lanjut

My wish for 2017

roadmapHmm…waktu masih SMA dan awal-awal berkuliah, rasanya jiwa ini penuh dengan ambisi. Pengen nilai bagus, pengen juara lomba, pengen nikah sama idol (hm..?). Tapi kok setelah hampir lulus ini rasanya ada yang beda. Ada perasaan yang berubah.

Keinginan untuk menang, semangat berkompetisi rasanya mulai memadam. Tergantikan dengan perasaan perasaan lain. Rasanya, kalah menang, nilai bagus atau buruk, tidak banyak artinya.Ada hal yang lebih penting dan utama yang baru disadari. Baca lebih lanjut

Memesan PCB di Bandung

pll-uhuy

PCB Phase Locked Loop

Membuat PCB sudah menjadi kebutuhan bagi banyak kalangan di Bandung. Mulai dari mahasiswa untuk membuat tugas elektronika, komunitas DIY, sampai kalangan profesional. Untungnya di Bandung sendiri ada beberapa alternatif toko/ fabhouse yg menyediakan jasa pencetakan PCB. Antara lain spectra (kng@bdg.centrin.net.id), multikarya, dan selc ( selc-pcb@bdg.centrin.net.id).

Memang sebenarnya kita bisa mencetak sendiri PCB, tapi kok saya merasa malas ya membuat sendiri. Cara membuat PCB sendiri itu unik sebenarnya. Prinsipnya substraktif, dari papan full tembaga, dietching sehingga hanya tersisa jalur tembaga yang diinginkan. Gimana cara membedakan jalur yang diinginkan? dengan mentransfer jalur dari kertas film ke papan tembaga. Papan tembaga kemudian akan tertutupi oleh jalur-jalur tinta film. Sehingga, ketika dicelupkan ke asam FeCL3, hanya jalur yang tertutup FeCL3 yang tersisa. Menarik sebenarnya (^-^) Baca lebih lanjut